Psychology for better life

Waspadai, kekerasan berbaju pendidikan

July 26th, 2008 Posted in General | 3 Comments »

Oleh: Deny Hermawan

Harian Jogja, 24 Juli 2008

 

DEPOK: Sampai kini, anak-anak Indonesia masih belum memperoleh haknya secara utuh sebagai seorang anak. Mereka belum mendapat perlindungan mulai dari kekerasan, kurang nutrisi, dan perlindungan dari tayangan televise yang menyesatkan. Sutarimah Ampuni, psikolog anak dari Fakultas Psikologi UGM menjelaskan para orangtua harus introspeksi diri. Dikatakan, anak zaman sekarang di satu sisi banyak mendapatkan kemudahan fasilitas. Namun di sisi lain berbagai hal urgen terabaikan. Saat ini, menurut Sutarimah kekerasan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. “Masih banyak anak yang menjadi objek kekerasan. Kekerasan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga mental berupa intimidasi dari orangtua sendiri”, ujarnya.

Fenomena kekerasan mental yang tengah hangat di masyarakat adalah tuntutan agar anak selalu berprestasi di sekolah. Ini adalah kekerasan pada anak berbaju pendidikan. “Anak ditekan untuk berprestasi dan mengembangkan diri melalui berbagai macam les, dan mengabaikan hak anak untuk bermain. Prestasi memang hal yang penting, namun orang tua harus bisa melihat ini secara proporsional. Jangan melakukan kekerasan atas nama pendidikan”, tegasnya.

Bentuk kekerasan lain yang menurutnya kerap terjadi adalah bullying. Hal itu banyak terjadi di lingkungan sekolah, bahkan di SD favorit. Ia mencontohkan kasus pemalakan antar siswa atau penekanan oleh siswa yang senior kepada siswa junior. “Banyak pihak yang tahu kalau hal ini terjadi di wilayah kita, tapi disembunyikan. Saya tahu karena banyak klien saya yang lapor”, ujarnya.

Sutarimah menambahkan agen kekerasan yang tidak kalah sadis bagi mental dan fisik adalah televisi. Tanpa disadari oleh anak dan lingkungannya, televisi telah memberikan pengaruh buruk pada anak. “Tanpa disengaja, anak mendapat ekspos kekerasan dari acara TV, baik itu tawuran, demo, dan kekerasan lainnya”, jelasnya.

Masa anak-anak adalah fase emas, karena proses pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental tengah berlangsung. Sayangnya, dalam tahap perkembangan ini anak tidak mendapatkan asupan gizi yang optimal. Menurut Sutarimah, saat ini makanan anak-anak ibarat sampah, ada di mana-mana namun tidak terkontrol kualitasnya. “Yang bermerk saja banyak yang mengandung zat kimia penyedap dalam kadar berlebihan, apalagi yang tidak bermerk. Saya merasa orangtua perlu mendapatkan pendidikan tentang ini. Bagaimanapun kualitas makanan akan menentukan kualitas masa depan anak”, ujarnya.

Satu lagi menurutnya yang menjadi keprihatinan adalah masalah anak jalanan. Anak jalanan adalah contoh konkret anak yang belum mendapatkan hak untuk banyak hal. “Pemerintah itu ke mana? Mereka belum mendapat kehidupan yang layak sebagai anak, tetapi program dari pemerintah tidak jelas”, ujarnya. Ia mengatakan departemen sosial seharusnya melakukan pendekatan kepada anak jalanan secara sistematik, bukan secara individualistik. “Kami akan senang kalau dirangkul melakukan sesuatu untuk anak jalanan”, tambahnya. Menurutnya, anak jalanan tetap saja manusia yang perlu diperhatikan dan diberi hak untuk tumbuh.

Siswa Perlu Terus Didukung

April 25th, 2008 Posted in General | 1 Comment »

Jumat, 25 April 2008

YOGYAKARTA, KOMPAS - Seusai menjalani ujian nasional atau UN selama tiga hari, para murid masih membutuhkan dukungan dari keluarga dan sekolah untuk mempersiapkan diri menghadapi rangkaian ujian sekolah selanjutnya. Selain itu, dukungan diperlukan untuk mengembalikan turunnya kepercayaan diri ketika tidak bisa mengerjakan soal UN. Pada umumnya murid mengalami stres sejak mempersiapkan diri menghadapi UN. Setelah UN, stressor tidak langsung hilang karena mereka masih waswas menunggu hasil ujian. Stressor sebenarnya diperlukan dalam hidup untuk memotivasi seseorang. Ketika stressor berada di bawah ambang batas kemampuan individu untuk menghadapinya, tidak akan terjadi masalah. Namun, ketika melebihi ambang batas, seseorang bisa menjadi tertekan atau depresi, tutur dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada, Sutarimah Ampuni, Kamis (24/4). Cara siswa menyikapi UN yang sudah berlangsung pun berbeda-beda. Namun, Ampuni mengingatkan agar lingkungan terdekat terus memberikan dukungan. Saat ini siswa perlu diajak melupakan soal-soal yang tidak bisa dikerjakan dan berkonsentrasi ke ujian sekolah yang masih harus dijalani, ujarnya. Ketidaklulusan umumnya menjadi pengalaman traumatik yang tidak mudah disembuhkan bagi sebagian orang sehingga memengaruhi perkembangan hidup jangka panjang. Nantinya mereka yang tidak lulus butuh bantuan banyak pihak untuk mengembalikan motivasi dan kepercayaan diri sehingga bisa kembali merasakan bahwa mereka berharga, papar Ampuni. Untuk mengistirahatkan sejenak pikiran seusai UN, beragam aktivitas dilakukan siswa, mulai dari bepergian bersama rekan-rekan, sepak bola bersama, menonton film di gedung bioskop, atau bermain aneka games di warnet. Sebagian murid memilih beristirahat. Mau nyantai dulu, tidur sampai puas. Capai belajar terus, kata Rino (18), siswa SMKN 2 Yogyakarta.

 

Supaya tidak bertambah stres, siswa juga terus berpikiran positif. Yang penting saya sudah belajar dan berusaha yang terbaik. Saya yakin bisa mengerjakan soal ujian dengan baik, tapi hasilnya tidak tahu. Itu urusan nanti, ujar Adi (18), siswa SMAN 1 Sentolo, Kulon Progo. Libur Untuk meredakan stres yang dialami siswa, hampir seluruh SMA dan SMK di Kulon Progo juga menetapkan hari Jumat ini sebagai hari libur bagi peserta UN. Menurut Kepala SMAN 1 Wates Sugiharto, pemberian libur penting agar siswa tidak merasa tertekan saat kembali masuk sekolah di hari Sabtu untuk memulai ujian sekolah. Perjalanan siswa masih panjang, kasihan kalau dipaksa belajar terus-terusan, lanjutnya. Pelaksanaan UN SMA/SMALB/ MA/SMK di seluruh DIY 22-24 April sendiri berlangsung lancar. Dari laporan yang masuk, penyelenggaraan UN di tiap kabupaten/kota berjalan lancar. Sampai saat ini tidak ada laporan kecurangan, kata Ketua Penyelenggara UN DIY K Baskara Aji. Sebagian besar lembar jawab komputer (LJK) juga sudah melewati proses scanning di Dinas Pendidikan DIY.

 

Baskara menjelaskan, setelah melewati proses validasi, hasil scanning dikirim ke Departemen Pendidikan Nasional untuk menjalani proses scoring nilai. Dari pantauan selama tiga hari pelaksanaan UN, Tim Pemanatau Independen (TPI) berharap kesalahan-kesalahan yang masih terjadi tidak terulang lagi pada pelaksanaan UN tingkat SMP dua pekan mendatang. Beberapa kesalahan tersebut, antara lain, siswa terlambat masuk ruang ujian, siswa membuka soal terlebih dahulu sebelum waktu yang ditentukan, dan keterbatasan sarana pendukung. Wakil Koordinator TPI UN DIY Rochmat Wahab mencontohkan, masih ada ruang ujian yang jarak antarsiswa kurang dari satu meter. Sekolah juga perlu memerhatikan berbagai sarana pendukung bagi siswa dengan kebutuhn khusus. Kami juga sempat menegur keras pengawas yang terlalu longgar mengawasi siswa di sebuah SMA swasta di Gamping, Sleman, kata Rochmat. TPI masih mengumpulkan data mengenai kasus tersebut. Ketika terbukti adanya kerja sama antara pengawas dan pihak sekolah untuk memberi kesempatan siswa bekerja sama, pengawas akan mendapat sanksi tegas. (DYA/YOP)

Televisi Membuat Anak Terlalu Cepat Dewasa

April 4th, 2008 Posted in General | 2 Comments »

www.kompas.com

Jumat, 4 April 2008 | 09:54 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Berbagai program acara anak yang ditayangkan di televisi saat ini banyak berdampak negatif bagi kehidupan anak-anak, antara lain menjadikan anak terlalu cepat dewasa. Karena itu, orang tua perlu mendampingi anak menonton televisi. Kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi media juga harus ditingkatkan. Dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sutarimah Ampuni mencontohkan, pada film-film kartun bahasa terjemahan yang dipakai adalah bahasa orang dewasa. Ada pula kisah percintaan yang belum waktunya dikenalkan pada anak-anak. Beberapa acara reality show telah melanggar batas kehidupan wajar anak-anak, tutur Ampuni sembari menyebut beberapa nama acara di televisi pada diskusi Telaah Kritis Program Televisi untuk Anak- anak di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP), Kamis (3/4).

Jadwal acara yang memakai jam belajar anak, tuntutan berlebihan untuk keberhasilan anak, pemaksaan norma orang dewasa untuk menilai anak, dan pemakaian pakaian yang mengikuti gaya orang dewasa membuat anak-anak tidak lagi hidup secara wajar sesuai usianya. Anak-anak bahkan diperkenalkan kepada dunia di luar pemahaman mereka. Pada sinetron anak seperti Si Entong, Samsonwati, Seri Legenda, dan lain sebagainya, anak-anak disuguhi permasalahan- permasalahan orang dewasa dan kisah-kisah percintaan yang bisa merusak logika berpikir anak. Untuk memberikan lingkungan yang sehat bagi perkembangan anak, Ampuni menekankan pentingnya production house membuat tayangan interaktif dan edukatif yang menanamkan pesan-pesan moral dengan bahasa anak-anak.

Sinetron Penulis Yunita Candra yang mewakili komunitas We Are Mommies Indonesia mengungkapkan, saat ini sebenarnya sudah ada tayangan televisi yang mendidik. Si Unyil atau Surat Sahabat, misalnya, sangat bagus. Sayangnya acara itu ditayangkan di siang hari saat anak-anak istirahat. Sedangkan di pagi hari dan sepanjang sore sampai malam diisi sinetron, papar Yunita. Karena itu, ia lalu membatasi kegiatan menonton televisi pada anak-anaknya. Peneliti PKMBP, Rahayu, mengungkapkan, saat ini keberadaan televisi memang sudah sulit dipisahkan dari hidup anak-anak. Pendampingan orangtua merupakan langkah terbaik untuk membantu anak berinteraksi dengan televisi. Selain itu, pemerintah perlu mendukung kegiatan literasi media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menyikapi media secara positif. (DYA)

KACA: Nonton Bokep Aaaaahh…Tapi…?

March 21st, 2008 Posted in General | 2 Comments »

04/03/2008 09:54:14

www.kr.co.id

BEBERAPA anak laki-laki berkerumun di belakang kelas. Salah satu dari mereka memegang handphone barunya yang sedang nge-trend di kalangan masyarakat middle-up. Tetapi jangan dikira si anak tadi memamerkan hp barunya. Tidak sama sekali. Yang ia lakukan adalah menunjukkan video porno yang ada dalam hp-nya. Hal ini membuktikan bahwa belakangan ini peredaran video porno di kalangan pelajar amat sangat marak.

Video porno memang bukan hal aneh dan asing lagi bagi sebagian besar remaja. “Wajarlah umur-umur segini,” ucap Indra. Terbukti dengan hasil survei terhadap 18 responden yang dilakukan tim Kaca, 100% responden mengaku pernah melihat video porno. “Rasa ingin tahu yang besar memang normal, tapi penyalurannya kan harus dipertimbangkan,” kata psikolog Sutarimah Ampuni SPsi, MSi, MPsych.

Read the rest of this entry »

My new site

February 16th, 2008 Posted in General | 3 Comments »

Finally, my new site has been constructed………